Terkadang, saya kehilangan kepercayaan diri.

Ilmu yang sederhana terlihat susah, masalah yang sederhana terlihat rumit dan tak berujung.

Bukannya lantas bekerja lebih keras, tubuh ini malah tertimbun di dalam longsor kemalasan & malah merasa kerdil.

Orang-orang (baca: teman-teman) Eropa di sekelilingku terlalu pintar, aku tak akan mampu mengimbangi mereka.

Untungnya -kebiasaan orang Indonesia sedikit-sedkit bilang untung- ketika semangat itu sedang turun, malah datang embun penyejuk penenang hati.

Embun itu kali ini datang dari seorang bernama Nyai Ontosoroh, dalam “Anak Semua Bangsa” karya Pramoedya Ananta Toer:

“Eropa tidak lebih terhormat daripada kau sendiri, Nak! Eropa lebih unggul hanya di bidang ilmu, pengetahuan dan pengendalian diri. Tidak lebih”.

“Minke, Nak, jangan kau mudah terpesona oleh nama-nama. Kan kau sendiri pernah bercerita padaku: nenek moyang kita menggunakan namanya yang hebat-hebat dan dengannya ingin mengesani dunia dengan kehebatannya – kehebatan dalam kekosongan? “

“Eropa tidak berhebat-hebat dengan nama. Dia berhebat-hebat dengan ilmu dan pengetahuannya. Tapi si penipu tetap penipu, si pembohong tetap pembohong dengan ilmu dan pengetahuannya”

Advertisement