Layaknya momen-momen pertemuan dengan tokoh nasional sebelumnya, saya berpakaian nyaman namun rapi.
Kali ini agak beda memang, karena status beliau yang merupakan mantan presiden. Ini adalah kali kedua saya bertatap muka dengan orang yang pernah / sedang menjadi kepala pemerintahan di Indonesia setelah sebelumnya pada tahun 2005 di SMA TN.
Pukul 7:15 – persiapan kuliah umum
Sedikit terlalu cepat memang, tapi semangat di pagi yang berawan namun cerah menemani langkah-langkah saya menuju ke tempat acara di RWTH Aachen. Untuk kesekian kalinya, saya akan bertatap muka dengan tokoh nasional. Yang lebih spesial adalah, beliau memiliki background tehnik, sama seperti saya & merupakan profesional sejati di bidangnya, yaitu kontruksi pesawat terbang.
Beliau adalah BJ Habibie, Presiden Republik Indonesia ke tiga. Dengan karya-karya nyata, BJ Habibie telah membuktikan, bahwa Indonesia pun bisa maju. Bahwa Indonesia punya manusia-manusia brilian yang kemampuannya lebih dari cukup untuk menghasilkan produk-produk canggih. Bahwa Indonesia bisa berdiri diatas kaki sendiri.
Pukul 9:57 – Pelajaran Pertama
Kurang beberapa menit sebelum jam 10:00, dimana acara dijadwalkan dimulai, Pak BJ Habibie bersama rombongan datang tepat waktu. Kehadiran tokoh bangsa ini bisa ditandai dengan blitz kamera yang menyala-nyala dari bagian dokumentasi & wartawan yang sudah menunggu kedatangan beliau di pintu masuk.
Saya yang waktu itu bertugas menyambut, mulai sedikit grogi ketika langkah-langkah beliau mulai mengakhiri tangga menuju ke tempat acara. Anehnya, ketika berpapasan & mengucap “Selamat Pagi, Pak”, saya tidak merasakan sedikitpun canggung walaupun beliau adalah mantan presiden. Dengan santai beliau tersenyum dan membalas salam dari saya. Tidak ada sedikitpun aura meninggikan diri saya rasakan.
Incredible! Seorang tokoh yang jelas-jelas sudah melakukan banyak hal untuk negaranya & kualitasnya diakui oleh dunia memiliki grass root competence yang sudah langka di kalangan pejabat masa kini. Selain itu komitmen beliau pada waktu juga sangat luar biasa. Saya sedikit malu, karena peserta pun belum seluruhnya hadir padahal menurut jadwal, seharusnya acara dimulai pukul 10:00 .
Pukul 10:30 – Pelajaran kedua
Seusai kata-kata sambutan, Pak Habibie mulai menyampaikan orasi. Segmen pertama beliau sampaikan dalam bahasa Inggris. Masalah yang disampaikan adalah mengenai perbandingan Eropa – ASEAN / Jerman – Indonesia.
Sungguh mengagumkan. Seorang Eyang berusia 75 tahun, masih begitu bersemangat membicarakan & mempromosikan bangsanya di depan tamu-tamu kehormatan yang hadir pada waktu itu. Semangat, visi & mentalitas perjuangan beliau tak pernah sepuh dimakan umur & zaman. Tidak pernah sedikitpun statemen bernada pesimisme ataupun skeptis keluar dari seorang BJ Habibie. “Indonesia, sebagai satu-satunya negara kepulauan maritim di dunia punya kesempatan yang sama untuk maju, layaknya negara-negara lain di muka bumi ini”, kata Pak Habibie.
Di sela-sela orasi, beliau juga menyampaikan secara tersirat, bahwa menjadi profesional di bidangnya adalah sangat sangat penting. Dengan mencontohkan mata kuliah Mechanik (Mekanik), yang selalu menjadi masalah bagi setiap mahasiswa tehnik mesin di Jerman, Pak Habibie menekankan pentingnya menjadi seorang profesional yang mencintai bidang ilmu yang sedang didalami oleh masing-masing individu.
Pukul 13:30 – Pelajaran ketiga
Seusai berorasi selama 3 jam lebih, menurut jadwal adalah istirahat makan siang. Saya & Riki yang ketika itu bertugas mengawal Pak Habibie sampai ke ruang makan VIP agak kesulitan untuk mengarahkan beliau ke ruang makan, karena tak disangka, ada banyak orang yang “menghadang” beliau untuk bersalaman dan meminta tanda tangan baik di buku “Habibie & Ainun” maupun pada foto-foto & benda lainnya. Pak Habibie yang terlihat jelas tidak ingin mengecewakan, sambil tersenyum membubuhkan tanda tangan pada benda-benda yang disodori oleh audiens, meskipun pada waktu itu beliau sudah cukup lelah karena berdiri lama. Beruntung seorang bapak yang sepengetahuan saya adalah pengurus ICMI Eropa langsung memegang tangan Pak Habibie & membawa beliau ke ruang makan.
Disini kembali lagi saya belajar, bahwa dunia tidak buta & tuli. Dunia tahu siapa yang pernah berkontribusi & siapa yang tidak. Antusiasme yang sangat tinggi di acara ini, baik dari tamu kehormatan maupun dari audiens, merepresentasikan apresiasi yang tinggi terhadap sumbangsih BJ Habibie baik bagi Indonesia maupun bagi dunia.
Pukul 16:30 – Pelajaran keempat
Sesi utama dari acara kuliah umum ini sudah berlalu. Dengan pengaturan yang sedemikian rupa semua peserta mendapatkan kesempatan berfoto dengan beliau per grup. Selanjutnya, acara informal dilanjutkan dengan acara tanda tangan. Saya yang ketika itu bertugas menjaga keteraturan peserta, terkadang menanyakan kondisi beliau apakah masih kuat atau tidak. Nyatanya Pak Habibie sangat semangat & sama antusiasnya dengan antrian peserta waktu itu. Hal ini bisa saya lihat dari kesabaran beliau menyapa satu persatu orang yang datang & selalu bersedia diajak berfoto bersama dengan individu per individu. Disini saya kembali melihat beliau adalah pekerja keras sejati. Bahkan ketika sudah amat lelah pun, beliau akan menyelesaikan hal-hal yang dianggapnya penting.
Ada satu momen yang cukup menegangkan ketika itu. Yakni ketika saya melihat tulisan beliau ketika menulis nama di bawah tanda tangan mulai tidak teratur besar kecilnya. “Pasti Bapak sangat lelah”, pikir saya dalam hati. Di waktu yang hampir bersamaan, Nadia (cucu beliau) datang & menanyakan masalah obat yang harus diminum Bapak. Sempat tegang, sampai akhirnya orang terakhir yang meminta tanda tangan pergi, saya mengucap Alhamdulillah dalam hati karena tidak terjadi sesuatu yang tidak saya inginkan.
Dengan segera saya langsung mengarahkan Pak Habibie ke mobil supaya bisa segera ke hotel & istirahat. Sebelum naik ke mobil, Pak Habibie menyalami panitia satu persatu sambil berkata, “Terima kasih ya, Well done!” . Mobil beliau bergerak menuju hotel & panitia bergerak masuk ke ruangan acara untuk beres-beres.
Sambil berjalan masuk, saya terus bergumam di dalam hati & pikiran, “Tidak Pak, kami yang harusnya berterima kasih. Begitu banyak nilai-nilai kebangsaan, kejuangan & kebudayaan yang Pak Habibie tunjukkan hari ini. Ketika sesi kuliah umum Bapak bercerita, kesulitan apapun tidak boleh menjadi hambatan untuk maju, melalui sesi informal Pak Habibie menunjukkan bahwa semangat & kerja keras tak seharusnya lekang dimakan usia”.
Terima kasih Pak Habibie.
Mudah-mudahan Allah SWT selalu memberikan kesehatan untuk Eyang Habibie.
Insya Allah, tongkat estafet ini akan kami lanjutkan dengan sebaik-baiknya.
Bukan dengan ngomong, tapi dengan karya-karya nyata.



Leave a comment
Comments feed for this article