Oleh: Abdurrahman Wahid


Sarjana X yang baru menamatkan studi di luar negeri pulang ke tanah air. Delapan tahun ia tinggal di negara yang tak ada orang muslimnya sama sekali. Di sana juga tak satu pun media massa Islam mencapainya.

Jadi pantas  sekali  X terkejut ketika kembali ke tanah air. Di mana saja ia berada, selalu dilihatnya ekspresi kemarahan orang muslim. Dalam khotbah Jum’at yang didengarnya seminggu sekali. Dalam majalah Islam dan pidato para mubaligh dan da’i.

Terakhir ia mengikuti sebuah lokakarya. Di sana diikutinya dengan bingung uraian seorang ilmuan eksata tingkat top, yang menolak wawasan ilmiah yang diikuti mayoritas para ilmuwan seluruh dunia, dan mengajukan ‘teori ilmu’ pengetahuan Islam ‘ sebagai alternatif.

Bukan penampilan alternatif itu sendiri yang merisaukan sarjana yang baru pulang itu, melainkan kepahitan kepada wawasan ilmu pengetahuan moderen yang terasa di sana. Juga idealisasi wawasan Islam yang juga belum jelas benar apa batasannya bagi ilmuwan yang berbicara itu.

Semakin jauh X merambah ‘rimba kemarahan’ kaum muslimin itu semakin luas dilihatnya wilayah yang dipersengketakan antara wawasan ideal kaum muslimin dan tuntutan modernisasi. Dilihatnya wajah berang dimana-mana: di arsip proses pelarangan cerpen Ki Panji Kusmin Langit Makin Mendung. Dalam desah napas  putus asa dari seorang aktivis organisasi Islam ketika ia mendapati X tetap saja tidak mau tunduk kepada keharusan  menempatkan ‘merk Islam’ pada kedudukan tertinggi atas semua aspek kehidupan. X bahkan melihat wajah kemarahan itu dalam serangan yang tidak kunjung habis terhadap ‘informasi salah’ yang ditakuti  akan menghancurkan Islam. Termasuk semua jenis ekspresi diri, dari soal berpakaian hingga Tari Jaipongan.

Walaupun  gelar Doktor diperolehnya dalam salah satu cabang disiplin ilmu-ilmu sosial, X masih dihadapkan pada kepusingan memberikan penilaian atas keadaan itu. Ia mampu memahami sebab-sebab munculnya gejala ‘merasa terancam selalu’ yang demikian itu. Ia mampu menerangkannya dari mulut dari sudut pandangan ilmiah, namun ia tidak mampu menjawab bagaimana kaum muslimin sendiri dapat menyelesaikan sendiri ‘keberangan’ itu menyangkut aspek ajaran agama yang paling inti. Diluar kompetensinya, keluhnya dalam hati.

Karena itu diputuskannya untuk pulang kampung asal, menemui pamannya yang jadi kiai pesantren. Jagoan ilmu fiqh ini disegani karena pengakuan ulama lain atas ketepatan keputusan agama yang dikeluarkannya. Si ‘paman kiai’ juga merupakan perwujudan kesempurnaan perilaku beragama di mata orang banyak.

Apa jawab yang diperoleh X ketika ia mengajukan ‘kemusykilan’ yang dihadapinya itu? “Kau sendiri yang tidak tabah, Nak. Kau harus tahu, semua sikap yang kau anggap kemarahan itu adalah pelaksanaan tugas amar ma’ruf nahi munkar,” ujar sang paman dengan kelembutan yang mematikan. “Seharusnya kaupun bersikap begitu pula, jangan lalu menyalahkan mereka”.

Terdiam tidak dapat menjawab, X tetap tidak menemukan apa yang dicarinya. Orang muda ini lalu kembali ke ibu kota. Mencari seorang cendekiawan muslim kelas kakap, siapa tahu  dapat memberikan jawaban yang memuaskan hati. Dicari yang moderat, yang dianggap mampu menjembatani antara formalisme agama dan tantangan dunia modern kepada agama.

Ternyata lagi-lagi kecewa,”Sebenarnya kita harus bersyukur mereka masih mengemukakan gagasan alternatif parsial ideologis terhadap tatanan yang ada!” demikian jawaban yang diperolehnya. Ia tidak mampu mengerti mengapa kemarahan  itu masih lebih baik dari kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi.

Orang muda yang satu ini tercenung tanpa mampu merumuskan apa yang seharusnya ia pikirkan. Haruskah pola berpikirnya diubah secara mendasar, mengikuti keberangan itu sendiri?

Akhirnya, ia diajak  seorang kawan seprofesi untuk menemui seorang guru tarekat. Dari situlah ia memperoleh kepuasan. Jawabannya ternyata sederhana saja. “Allah itu Maha Besar. Ia tidak perlu memerlukan pembuktian akan kebesaran-Nya. Ia Maha Besar karena Ia ada. Apa yang diperbuat orang atas diri-Nya, sama sekali tidak ada pengaruhnya atas wujud-Nya dan atas kekuasaan-Nya.

Al-Hujwiri mengatakan: bila engkau menganggap Allah ada karena engkau merumuskannya, hakikatnya engkau menjadi kafir. Allah tidak perlu disesali kalau ia “menyulitkan” kita. Juga tidak perlu dibela kalau orang menyerang hakikat-Nya. Yang ditakuti berubah adalah persepsi manusia atas hakikat Allah, dengan kemungkinan kesulitan yang diakibatkannya.”

Kalau diikuti jalan pikiran kiai tarekat itu, informasi dan ekspresi diri yang dianggap merugikan Islam sebenarnya tidak perlu ‘dilayani’. Cukup diimbangi dengan informasi dan ekspresi diri yang “positif konstruktif”. Kalau  gawat cukup dengan jawaban yang mendudukan persoalan secara dewasa dan biasa-biasa saja. Tidak perlu dicari-cari.

Islam perlu dikembangkan, tidak untuk dihadapkan kepada serangan orang. Kebenaran Allah tidak akan berkurang sedikit pun dengan adanya keraguan orang. Maka iapun tenteram. Tidak lagi merasa bersalah berdiam diri. Tuhan tidak perlu dibela, walaupun juga tidak menolak dibela. Berarti atau tidaknya pembelaan, akan kita lihat dalam perkembangan di masa depan.

(Sumber: TEMPO, 28 Juni 1982)

Belajarlah untuk menahan bicara, terutama saat Anda tahu bahwa Anda benar.

Orang yang benar membutuhkan alasan yang paling sedikit untuk menjelaskan bahwa dia benar.

Hanya dia yang tidak yakin bahwa dia benar – merasakan keharusan untuk menjelaskan – kepada orang lain dan terutama kepada dirinya sendiri.

Berbicaralah hanya kepada yang akan mendengarkan Anda, karena kebutuhan mereka atau karena penghormatan di antara Anda dan mereka.

Jangan berbicara dengan mereka yang akan semakin meyakini kebodohan mereka.
 

Mario Teguh

Quickcount Versi Indo Barometer/Metro TV: Foke-Nara (45,89%) – Jokowi-Ahok (54,11%)

 

Hal-hal positiv & harapan dari kemenangan Jokowi-Ahok di Jakarta (versi Quickcount):

 

1. Dukungan partai politik / elit partai politik tidak mencerminkan dukungan rakyat.

Dari sini bisa semakin dilihat, ternyata rakyat bisa semakin menilai, pemimpin mana yang mengayomi & mana yang tidak. Logika umum dukungan partai politik / elit partai politik berarti dukungan rakyat terbantah di Pilkada DKI Jakarta kali ini.

 

2. Isu SARA yg selama ini didengungkan oleh kelompok-kelompok tertentu terbukti tidak mempan & bukan lagi cara yg efektiv dalam berkampanye, malah cenderung senjata makan tuan.

 

3. Mudah-mudahan ini jadi awal untuk tradisi prestasi & track record dalam memilih pemimpin, terlepas dari apa suku, agama, ras & asal golongan maupun partai penyokong, BUKAN tradisi saling menjatuhkan dengan menggunakan agama & ras sebagai alat.

 

4. Mudah-mudahan Jakarta Baru jadi awal untuk Jawa Baru, Kalimantan Baru, Sulawesi Baru, Bali Baru, Papua Baru & Indonesia Baru di masa depan.

 

5. Yang paling penting: Ini baru AWAL!

Mudah-mudahan Jokowi-Ahok bisa memenuhi harapan saya & semua orang yg ingin melihat Jakarta jadi bagus (Indonesia untuk kedepannya). Dari sini tugas kita semua utk terus mengawasi kerja Jokowi-Ahok selama mereka menjabat. Klo memang kerjanya ga bner, ya ga usah dipilih lagi 🙂

Sedih mendengar persoalan kecil seperti “Lady Gaga” mendapat perhatian yg begitu besar dari banyak orang, lebih sedih lagi karena di dalam hal ini terlihat betul penyelesaian persoalan (dalam prosesnya) tidak melalui jalur hukum. 

Sangat heran juga, melihat orang-orang yg berbicara ttg Indonesia tapi berargumentasi dengan agama yg dianutnya, padahal jelas-jelas Indonesia berdasarkan UUD 45 & Pancasila. 

Masalah-masalah yg lebih penting seperti tindak kekerasan (termasuk FPI yg mengatasnamakan agama), kemiskinan & pendidikan (sekolah rusak, pendidikan 12 tahun) justru hampir tak terdengar.

Mungkin kata-kata seperti mayoritas & minoritas harus kita hilangkan dari penggunaan kosa kata berbahasa Indonesia.

Layaknya momen-momen pertemuan dengan tokoh nasional sebelumnya, saya berpakaian nyaman namun rapi.

Kali ini agak beda memang, karena status beliau yang merupakan mantan presiden. Ini adalah kali kedua saya bertatap muka dengan orang yang pernah / sedang menjadi kepala pemerintahan di Indonesia setelah sebelumnya  pada tahun 2005 di SMA TN.

Pukul 7:15 – persiapan kuliah umum

Sedikit terlalu cepat memang, tapi semangat di pagi yang berawan namun cerah menemani langkah-langkah saya menuju ke tempat acara di RWTH Aachen. Untuk kesekian kalinya, saya akan bertatap muka dengan tokoh nasional. Yang lebih spesial adalah, beliau memiliki background tehnik, sama seperti saya & merupakan profesional sejati di bidangnya, yaitu kontruksi pesawat terbang.

Beliau adalah BJ Habibie, Presiden Republik Indonesia ke tiga. Dengan karya-karya nyata, BJ Habibie telah membuktikan, bahwa Indonesia pun bisa maju. Bahwa Indonesia punya manusia-manusia brilian yang kemampuannya lebih dari cukup untuk menghasilkan produk-produk canggih. Bahwa Indonesia bisa berdiri diatas kaki sendiri.

Pukul 9:57 – Pelajaran Pertama

Kurang beberapa menit sebelum jam 10:00, dimana acara dijadwalkan dimulai, Pak BJ Habibie bersama rombongan datang tepat waktu. Kehadiran tokoh bangsa ini bisa ditandai dengan blitz kamera yang menyala-nyala dari bagian dokumentasi & wartawan yang sudah menunggu kedatangan beliau di pintu masuk.

Saya yang waktu itu bertugas menyambut, mulai sedikit grogi ketika langkah-langkah beliau mulai mengakhiri tangga menuju ke tempat acara. Anehnya, ketika berpapasan & mengucap “Selamat Pagi, Pak”, saya tidak merasakan sedikitpun canggung walaupun beliau adalah mantan presiden. Dengan santai beliau tersenyum dan membalas salam dari saya. Tidak ada sedikitpun aura meninggikan diri saya rasakan.

Incredible! Seorang tokoh yang jelas-jelas sudah melakukan banyak hal untuk negaranya & kualitasnya diakui oleh dunia memiliki grass root competence yang sudah langka di kalangan pejabat masa kini. Selain itu komitmen beliau pada waktu juga sangat luar biasa. Saya sedikit malu, karena peserta pun belum seluruhnya hadir padahal menurut jadwal, seharusnya acara dimulai pukul 10:00 .

Pukul 10:30 – Pelajaran kedua

Seusai kata-kata sambutan, Pak Habibie mulai menyampaikan orasi. Segmen pertama beliau sampaikan dalam bahasa Inggris. Masalah yang disampaikan adalah mengenai perbandingan Eropa – ASEAN / Jerman – Indonesia.

Sungguh mengagumkan. Seorang Eyang berusia 75 tahun, masih begitu bersemangat membicarakan & mempromosikan bangsanya di depan tamu-tamu kehormatan yang hadir pada waktu itu. Semangat, visi & mentalitas perjuangan beliau tak pernah sepuh dimakan umur & zaman. Tidak pernah sedikitpun statemen bernada pesimisme ataupun skeptis keluar dari seorang BJ Habibie. “Indonesia, sebagai satu-satunya negara kepulauan maritim di dunia punya kesempatan yang sama untuk maju, layaknya negara-negara lain di muka bumi ini”, kata Pak Habibie.

Di sela-sela orasi, beliau juga menyampaikan secara tersirat, bahwa menjadi profesional di bidangnya adalah sangat sangat penting. Dengan mencontohkan mata kuliah Mechanik (Mekanik), yang selalu menjadi masalah bagi setiap mahasiswa tehnik mesin di Jerman, Pak Habibie menekankan pentingnya menjadi seorang profesional yang mencintai bidang ilmu yang sedang didalami oleh masing-masing individu.

Pukul 13:30 – Pelajaran ketiga

Seusai berorasi selama 3 jam lebih, menurut jadwal adalah istirahat makan siang. Saya & Riki yang ketika itu bertugas mengawal Pak Habibie sampai ke ruang makan VIP agak kesulitan untuk mengarahkan beliau ke ruang makan, karena tak disangka, ada banyak orang yang “menghadang” beliau untuk bersalaman dan meminta tanda tangan baik di buku “Habibie & Ainun” maupun pada foto-foto & benda lainnya. Pak Habibie yang terlihat jelas tidak ingin mengecewakan, sambil tersenyum membubuhkan tanda tangan pada benda-benda yang disodori oleh audiens, meskipun pada waktu itu beliau sudah cukup lelah karena berdiri lama. Beruntung seorang bapak yang sepengetahuan saya adalah pengurus ICMI Eropa langsung memegang tangan Pak Habibie & membawa beliau ke ruang makan.

Disini kembali lagi saya belajar, bahwa dunia tidak buta & tuli. Dunia tahu siapa yang pernah berkontribusi & siapa yang tidak. Antusiasme yang sangat tinggi di acara ini, baik dari tamu kehormatan maupun dari audiens, merepresentasikan apresiasi yang tinggi terhadap sumbangsih BJ Habibie baik bagi Indonesia maupun bagi dunia.

Pukul 16:30 – Pelajaran keempat

Sesi utama dari acara kuliah umum ini sudah berlalu. Dengan pengaturan yang sedemikian rupa semua peserta mendapatkan kesempatan berfoto dengan beliau per grup. Selanjutnya, acara informal dilanjutkan dengan acara tanda tangan. Saya yang ketika itu bertugas menjaga keteraturan peserta, terkadang menanyakan kondisi beliau apakah masih kuat atau tidak. Nyatanya Pak Habibie sangat semangat & sama antusiasnya dengan antrian peserta waktu itu. Hal ini bisa saya lihat dari kesabaran beliau menyapa satu persatu orang yang datang & selalu bersedia diajak berfoto bersama dengan individu per individu. Disini saya kembali melihat beliau adalah pekerja keras sejati. Bahkan ketika sudah amat lelah pun, beliau akan menyelesaikan hal-hal yang dianggapnya penting.

Ada satu momen yang cukup menegangkan ketika itu. Yakni ketika saya melihat tulisan beliau ketika menulis nama di bawah tanda tangan mulai tidak teratur besar kecilnya. “Pasti Bapak sangat lelah”, pikir saya dalam hati. Di waktu yang hampir bersamaan, Nadia (cucu beliau) datang & menanyakan masalah obat yang harus diminum Bapak. Sempat tegang, sampai akhirnya orang terakhir yang meminta tanda tangan pergi, saya mengucap Alhamdulillah dalam hati karena tidak terjadi sesuatu yang tidak saya inginkan.

Dengan segera saya langsung mengarahkan Pak Habibie ke mobil supaya bisa segera ke hotel & istirahat. Sebelum naik ke mobil, Pak Habibie menyalami panitia satu persatu sambil berkata, “Terima kasih ya, Well done!” . Mobil beliau bergerak menuju hotel & panitia bergerak masuk ke ruangan acara untuk beres-beres.

Sambil berjalan masuk, saya terus bergumam di dalam hati & pikiran, “Tidak Pak, kami yang harusnya berterima kasih. Begitu banyak nilai-nilai kebangsaan, kejuangan & kebudayaan yang Pak Habibie tunjukkan hari ini. Ketika sesi kuliah umum  Bapak bercerita, kesulitan apapun tidak boleh menjadi hambatan untuk maju, melalui sesi informal  Pak Habibie menunjukkan bahwa semangat & kerja keras tak seharusnya lekang dimakan usia”.

Terima kasih Pak Habibie.

Mudah-mudahan Allah SWT selalu memberikan kesehatan untuk Eyang Habibie.

Insya Allah, tongkat estafet ini akan kami lanjutkan dengan sebaik-baiknya.

Bukan dengan ngomong, tapi dengan karya-karya nyata.

Menjadi yang terbaik itu konsekuensinya seumur hidup

-(Alm.) Kol. Mar. A. Karim Usman, Wakasekdik SMA TN, 1995-

Terkadang, saya kehilangan kepercayaan diri.

Ilmu yang sederhana terlihat susah, masalah yang sederhana terlihat rumit dan tak berujung.

Bukannya lantas bekerja lebih keras, tubuh ini malah tertimbun di dalam longsor kemalasan & malah merasa kerdil.

Orang-orang (baca: teman-teman) Eropa di sekelilingku terlalu pintar, aku tak akan mampu mengimbangi mereka.

Untungnya -kebiasaan orang Indonesia sedikit-sedkit bilang untung- ketika semangat itu sedang turun, malah datang embun penyejuk penenang hati.

Embun itu kali ini datang dari seorang bernama Nyai Ontosoroh, dalam “Anak Semua Bangsa” karya Pramoedya Ananta Toer:

“Eropa tidak lebih terhormat daripada kau sendiri, Nak! Eropa lebih unggul hanya di bidang ilmu, pengetahuan dan pengendalian diri. Tidak lebih”.

“Minke, Nak, jangan kau mudah terpesona oleh nama-nama. Kan kau sendiri pernah bercerita padaku: nenek moyang kita menggunakan namanya yang hebat-hebat dan dengannya ingin mengesani dunia dengan kehebatannya – kehebatan dalam kekosongan? “

“Eropa tidak berhebat-hebat dengan nama. Dia berhebat-hebat dengan ilmu dan pengetahuannya. Tapi si penipu tetap penipu, si pembohong tetap pembohong dengan ilmu dan pengetahuannya”

 

 

Dalam beberapa kesempatan, saya kembali melihat teman-teman seangkatan saya di SMA TN mulai perlahan-lahan “mengepakkan sayap mereka”.

Ada yang lulus dengan Summa Cum Laude, ada yang sekarang sudah bekerja di Danone Indonesia, ada yang diterima bekerja di Toshiba Jepang, ada yang menjadi asisten Laboratorium di ITB, dsb.

Saya yang berada jauh dari mereka, berdecak kagum dan bangga. Ucapan selamat pun terucap melalui situs jejaring sosial.

Perlahan tapi pasti, semangat dan tekad untuk mengikuti jejak mereka semakin kuat, labih kuat dari biasanya. Melihat orang lain sukses tentu bangga. Melihat orang lain bisa membahagiakan orang tua mereka tentu senang. Tapi, ketika pertanyaan seperti “kapan saya mencapai yang mereka capai?”, atau “kapan saya lulus?” timbul di benak saya, yang saya lakukan cuma beristigfar, sambil meyakinkan diri klo tiap orang ada jalannya masing-masing 🙂

Semoga ilmu yang saya cari jauh-jauh sampai ke negeri Jerman ini kelak bisa bermanfaat untuk orang banyak. Yang saya inginkan bukan cuma jadi sekadar sarjana dengan sertifikat di tangan. Yang saya inginkan jadi sarjana yang bisa mengaplikasikan ilmu yang saya miliki untuk hal-hal yang bermanfaat bagi orang banyak.

Bismillah, insya Allah Februari 2012 lulus! 🙂

Stuttgart, 23.2.2011

Piala AFF 2010 sudah berakhir dengan Malaysia keluar sebagai juaranya untuk kali ini. Selamat untuk Malaysia.

Skor 3-0 di Bukit Jalil hanya mampu dibalas oleh Timnas Indonesia dengan skor 2-1 di Stadion Utama Gelora Bung Karno. Alhasil, untuk keempat kalinya Indonesia menjadi yang nomor dua di turnamen paling bergengsi di Asia Tenggara ini karena kalah agregat, Indonesia vs Malaysia (2-4).

Ada yang bilang timnas kalah mental, ada yang bilang timnas cuma jago kandang, tapi sebetulnya esensi kekalahan timnas Indonesia dari Malaysia jauh lebih banyak dari cuma sekedar ekspos kesalahan-kesalahan selama pertandingan.

Dari pertandingan final AFF kali ini seharusnya kita bisa sama-sama belajar banyak hal.

1. Naturalisasi.

Superiornya penampilan timnas di babak grup sebagai tim yang mencetak gol terbanyak di turnamen membuat banyak orang berdecak kagum. Konon banyak orang yang mulai memuji kebijakan naturalisasi pemain asing. Sebetulnya, naturalisasi bukan cuma satu-satunya faktor yang membuat permainan timnas kita jadi lebih baik. Toh klo kita lihat lagi, sebagian besar starting eleven masih merupakan pesepakbola produk dalam negeri.

Disini kita bisa sama-sama simpulkan sebenarnya bahwa kita punya potensi. Naturalisasi sebaiknya jangan kita jadikan tumpuan untuk memperbaiki timnas kita, tapi jadikanlah naturalisasi itu trigger & role model pengembangan sepakbola tanah air. Pada kenyataannya kemajuan sepakbola tanah air masih bergantung pada proses pengembangan bakat-bakat muda Indonesia. Jika proses ini lebih baik, pasti timnas kita akan lebih baik.

2. Kalah

Mengamini tulisan E.S. Tito di “Surat untuk Firman“, piala AFF kali ini bukan soal kalah-menang, tapi lebih ke tema pembelajaran dan motivasi bagi seluruh rakyat Indonesia.

Pembelajaran bahwa sukses tidak dapat diperoleh dengan instant dan motivasi bahwa kita bisa!

Di piala AFF 2010 ini kita juga bisa melihat bagaimana setiap “orang” ingin “menampakkan diri” karena tahu timnas sedang bagus-bagusnya dan di elu-elukan banyak orang. Kita lihat saja, apakah setelah “kekalahan” kita di final masih ada “orang-orang” yang titip nama di timnas.

3. Motivasi

Untuk saya pribadi final piala AFF ini bukanlah akhir bagi timnas Indonesia yang saya cintai. Ini adalah awal kebangkitan timnas Indonesia. Untuk pertama kalinya dalam hidup saya, menonton pertandingan timnas Indonesia di piala AFF serasa menonton Liga Champion Eropa. Saya tidak bosan melihat ulang gol demi gol yang dibuat oleh timnas Indonesia dari babak penyisihan sampai final.

Mudah-mudahan rasa bangga ini bukan cuma ada dalam hati, tapi juga menjadi pelecut semangat dan teraplikasi pada diri saya dan setiap orang Indonesia yang sedang mengejar prestasi di bidangnya masing-masing demi kemajuan bangsa ini. Jika demikian adanya niscaya bukan cuma timnas yang akan lebih baik, perlahan tapi pasti Indonesia akan menuju kebangkitannya sebagai salah satu negara yang dihormati oleh dunia.

Tetap semangat timnas Indonesia! Menang ataupun Kalah, kami selalu ada di belakangmu!

-Pemain ke dua belas timnas Indonesia-

Merry Christmas everybody! Happy New Year 2011!

Selamat Natal & Tahun Baru semuanya…. 🙂

Well, mungkin postingan kali ini seminggu terlalu cepat buat tahun baru, cuma tidak apa-apa lah yaa 🙂

Natal kali ini adalah natal ke empat saya di Jerman. Seperti biasa, natal di Jerman selalu diisi dengan gurihnya kacang-kacang mandel, renyah & hangatnya Kartoffelkuchen (gorengan ala Jerman yang konon terbuat dari kentang) & tentu saja “keramaian” di malam hari karena Weihnachtsmarkt (Pasar Malam Natal) buka setiap hari dari sebulan sebelum natal sampai beberapa hari menjelang malam natal.

Kedamaian malam natal di Eropa membuat saya berharap, hal yang sama juga terjadi di Indonesia. Sejak tragedi bom di beberapa kota pada tahun 2000, yang terbesit di benak saya setiap kali natal adalah ketakutan dan pertanyaan, “Akankah natal di Indonesia kali ini aman tanpa ancaman bom ataupun gangguan oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab?”

Pada hakikatnya, kita sebagai bagian dari Indonesia yang majemuk harus menghargai hari raya setiap keyakinan yang ada di negara ini. Ketika bulan Ramadhan berlalu dan sebagian besar WNI yang merupakan muslim bisa merayakan hari rayanya dengan tenang tanpa gangguan, petugas-petugas “wajib hadir” seperti polisi yang non-muslim tetap siaga mengamankan situasi. Sebaliknya, di natal kali ini saya berharap dan berdoa supaya setiap acara-acara yang diadakan oleh umat kristiani, baik protestan maupun katolik bisa lancar tanpa gangguan berarti.

Dan jika seburuk-buruknya nanti sampai muncul gangguan-gangguan yang tidak kita harapkan bersama, mudah-mudahan kita semua bisa bereaksi dengan kepala dingin dan tetap mengutamakan perdamaian & kesatuan diatas segala-galanya.

Yang terakhir,

Banyaknya perbedaan di bangsa Indonesia, yang salah satunya perbedaan keyakinan, harusnya tidak menjadi pelemah dalam setiap usaha & semangat dari setiap orang yang ingin melihat bangsa ini maju. Justru dengan banyaknya perbedaan, kita seharusnya mempunyai sikap toleransi yang lebih tinggi dibandingkan bangsa yang lain, kita seharusnya punya wawasan & sudut pandang yang lebih luas dalam melihat setiap permasalahan bangsa.

Saya yakin seyakin-yakinnya, suatu saat Indonesia akan mencapai titik dimana Indonesia akan menjadi salah satu bangsa terkuat di dunia. Indonesia akan jadi hebat tanpa kehilangan identitasnya yaitu bangsa dengan “isi” yang majemuk, tetapi saling menguatkan.

Berawal dari diri sendiri, saya berharap setiap elemen masyarakat bisa menjaga natal dan tahun baru 2010/2011 supaya tetap aman.

Have a blast christmas & new year 2011! 🙂

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 3 other followers

Categories

Calendar

June 2017
M T W T F S S
« Oct    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  
17.8.2007

Indonesia´s Independence Day, Berlin, 17.8.2007

Molen (=Windmill)

I´ve been in Netherlands! :D

Taruna Nusantara High School

Ceremony Platoon, High School

social activity

Goodbye, Bandongan Village! I´ll miss you & thank´s for everything :)